Sabtu, 20 Juli 2019

PADAMKAN APINYA! Oleh:LISARS


        Malam ini udara sangat dingin, terlebih lagi hujan turun membasahi jalanan kota jogja. Jihan berjalan dengan sedikit cepat karna sudah terlalu larut, ia ingin cepat mengunjungi adiknya Citra yang berada di rumah sakit karna kecelakaan tempo hari lalu. Dan entah keberuntungan tidak berpihak kepadanya atau bagaimana, Jihan bertemu mantan kekasihnya yang telah selingkuh dengan sahabatnya.

        Tiba-tiba dadanya merasa sesak mengingat kejadian itu,sahabat sejati nya yang sudah ia anggap seperti saudara nya sendiri telah menghianati nya.entah tiba-tiba ia ingin menangis mengingat itu,sebisa mungkin ia menghindar dari pria itu.

              Jihan mencoba menghindar dari pria yang pernah menjadi pacarnya itu,tapi sial baginya laki-laki itu melihatnya dan menghampirinya. Jihan mencoba menahan rasa sakit di dadanya,ia tak ingin terlihat lemah di hadapan laki laki itu

        Tapi percuma,saat laki laki itu sudah dekat pertahanannya runtuh,air matanya menetes begitu saja,benteng kokoh yang selama ini dia buat tak ada hasilnya.
karena saat melihat dia,semua kenangan pahit itu kembali menghancurkannya.

 Jihan mengusap kasar air matanya yang jatuh.

"Bodoh" rutuk nya dalam hati.

        Kemudian Jihan menengadahkan kepala nya menghadap laki-laki di depannya. Melihat mata itu Jihan tidak sanggup lagi membendung air matanya yang mengalir. Mata itu, mata yang selalu manatap nya dengan tatapan hangat dan lembut. Namun sekarang sudah tidak lagi. Karna sekarang sudah tergantikan oleh seseorang yang sudah menghianatinya. Yaitu sahabatnya sendiri

   Aqsal, mantannya itu terlonjak kaget. Saat melihat terurai air mata dan tak kuasa menahan penyesalannya akan perempuan yang ada di depannya kini. Ingin rasanya ia lontarkan beribu maaf pada Jihan karna tak bisa dipungkiri ia masih memendam rasa padanya, tapi sepertinya sekarang waktunya tidak tepat.

Aqsal pun akhirnya hanya membiarkan Jihan bersama kesedihannya, dan membuat Jihan nyaman akan kehadirannya. Karena saat ini Aqsal tidak ingin mantan kekasihnya ini bersedih terlalu dalam, sungguh hati kecil Aqsal ingin sekali merangkul Jihan dalam pelukannya dan menghapus air mata Jihan, namun ia urungkan niatnya .

Tetapi, isak sedih tak kunjung berhenti . Apa sesakit itu yang Jihan rasakan? Sungguh hati kecil Aqsal merutuk semua kebodohan yang dilakukannya. Dulu ia pernah mengatakan akan menghabisi siapa saja yang membuat gadis nya bersedih. Lalu, apakah Aqsal harus memukul raganya sendiri? Tidak, sakit yang dirasakannya tidak sebanding dengan apa yang Jihan rasakan.

"Jihan?" Aqsal memberanikan diri untuk membuka suaranya.

Isakan Jihan pun terhenti seketika. Suara itu? Panggilan itu? Sungguh, Jihan sangat merindukannya.

Tanpa diduga, tangan Aqsal terulur ke arah wajah Jihan. Mengusap lembut air mata di pipi gadis itu.

"Jangan menangis" lirih Aqsal makin menatap sendu gadis yang pernah menjadi alasannya untuk bahagia itu.

Jihan menatap mata pemuda didepannya ini. Setiap kejadian kejadian menyakitkan terputar ulang dalam otaknya.

Emosinya menggebu, diusap kasar tangan pemuda itu, "Pergi!"

Aqsal terkejut dengan perubahan Jihan. Ia menatap Jihan dengan pandangan bertanya-tanya, "Jihan,kamu masih marah sama aku?"

"Pliss, lepasin tangan aku, Sal !"

"Kamu kenapa? Kamu masih marah? Kamu masih kepikiran kejadian lalu?"

"Tolong hargain aku, dan silahkan kamu pergi!" Jihan Menghembuskan nafasnya kasar.

Aqsal ingin mengucapkan kata-kata, namun niat itu ia urungkan. Ia tidak ingin membuat gadis didepannya ini menangis. Ia melangkahkan kakinya. Menjauh dari arah Jihan, tanpa menolehkan kepala.

Jihan terduduk dipinggir jalan itu, air mata yang ia sembunyikan kembali keluar. Waktunya untuk berpura-pura menjadi kuat sudah berakhir.

Ia tak ingin terus berlarut dalam kesedihan,ia  beranjak dari tempat nya dan berteriak dalam hatinya
"Aku harus kuat... Aku ga boleh lemah...".
ia pun pergi ke suatu tempat dimana tidak seorang pun tahu tempat itu.

Ini adalah tempat rahasia. Dimana hanya dua orang yang tahu letak dan untuk apa tempat ini digunakan. Selain Jihan, Citra lah orang ke-dua yang mengetahuinya.

Jihan menatap nanar sebuah foto yang berada di dinding ruangan itu. Mengingat kenangan lamanya dan kejadian mengerikan yang telah menimpa dirinya.

"Ini menyesakkan ... Kenapa ... Kenapa harus kalian ... Ayah, Ibu ...."

Sebelum menemui Citra , dia selalu mampir ke tempat ini. Tempat persembunyian miliknya dan Citra semenjak kecil. Tempat yang menyimpan banyak kenangan, sebelum orang tua mereka tewas dalam insiden pembunuhan malam itu.

Skip...

Esoknya Jihan akan berkunjung ke rumah sakit dimana adiknya dirawat, dia berada didalam bus suasana pagi ini sangat ramai dari biasanya.

Di dalam bus ia bertemu sahabatnya, tidak bukan sahabat. Melainkan mantan sahabat yang sudah merebut pacarnya.

"Jihan?" panggil sahabatnya itu.

"Nanda?" lirih Jihan bahkan seperti berbisik.

Tak lama kemudian, Jihan menyuruh supir bus untuk berhenti. Ia tidak sudi bertatap muka dengan Nanda.

Setelah Jihan turun, Nanda pun juga ikut turun. Nanda terlihat mengejar Jihan yang saat ini mencoba menghindarinya.

Srek...

Nanda berhasil menggenggam pergelangan tangan Jihan , membuat Jihan menoleh kebelakang dan menatap tajam Nanda.

"Aku bisa jelasin han," ujar Nanda.

Plak...

Satu tamparan sukses Jihan daratkan ke pipi kanan Nanda, saking kerasnya tamparan itu. Nanda meringis sambil mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.

"DASAR PENGKHIANAT!" bentak Jihan melototkan matanya


"Ji..jihann" lirih Nanda memegang pipi kanannya

"Apa?puas apa yang kamu lakuin?puas sekarang?" Bentak Jihan geram
"Aku nyesel udah percaya sama kamu" lanjutnya lagi

"Jihan,tolong percaya sama aku. Apa yang kamu liat bukan apa yang pikirkan.
Jangan salah paham dulu" ucap Nanda dengan cepat

"Ha?percaya katamu? Apa iya aku harus mempercayai orang Munafik seperti kamu!" Jihan tetap saja tak percaya dengan kata sahabatnya itu

"Aku gak bermaksud seperti itu,Jihan" jawab Nanda membela diri

"Mulai sekarang aku minta jangan temui aku,jangan ganggu hidupku ! Kita bukan sahabat lagi" Jihan kembali membentak

Keadaan sunyi di taman itu,hanya beberapa orang saja dari kejauhan dan mungkin tidak mendengar pertikain itu. Hanya Jihan dan Nanda saat ini. Api harus segera di padamkan agar tidak menimbulkan asap yang semakin tebal diantara persahabatan mereka.

"Maaf.. karna aku udah berani mempunyai rasa terhadapnya. Aku pendam rasa itu tapi aku gak bisa. Aku sudah mencintai Aqsal " bibirnya bergetar tak mampu berkata maaf kepada sahabatnya itu

"Bagus...bagus kalian memang pintar bersandiwara di depanku. Bodohnya aku selalu percaya !" Ucap Jihan menggelengkan kepala penuh penyesalan

"Aku minta maaf,aku memang salah
Dan aku tau kamu tidak akan pernah memaafkanku. Aku benar benar menyesal,jihan" isak tangisnya tiba tiba terdengar air matanya kini menetes dengan sendirinya.

Namun Jihan tak bergeming,ia hanya menyaksikan penyesalan Nanda di hadapannya kini. Jihan hanya tersenyum dengan muka masamnya dengan posisi Nanda tergeletak di tanah memohon maaf kepadanya.

"Aku tidak peduli kau menangis darah sekalipun!" Ucap Jihan memalingkan muka

Tag tag taghh.....

Suara gertakan seseorang berlari dari kejauhan

Rupanya itu Adalah Aqsal,lelaki yang membuat Jihan kecewa. Tau akan kehadiran Aqsal,Jihan tiba-tiba bangun dari tempat duduknya melihat tindakan yang dilakukan Aqsal terhadap sahabatnya itu. Dan benar saja,Aqsal merangkul Nanda dan memeluknya lembut,seraya mengusap air matanya.

Jihan benar-benar sakit hati,hatinya retak.
Persahabatan selama 6 tahun di jalaninya dengan Nanda berakhir kandas di atas Seorang laki-laki.

"Jihan,aku dan Nanda benar-benar minta maaf... akuu juga mencintainya dan...." Aqsal membuka pembicaraan namun di hentikan oleh Jihan

"Cukup...kalian memang keterlaluan" Jihan pergi meninggalkan mereka namun tidak dengan tangisan hanya kekecewaan

Kejadian itu tak pernah disangka oleh Jihan,Bagaimana mungkin sahabatnya berhianat?

Memang perasaan tidak bisa dicegah,tidak bisa dipaksa untuk melupakannya. Perasaan tumbuh dengan sendirinya oleh hati ke hati. Tidak ada larangan mencintai siapapun,tapi Terkadang manusia hanya menyimpan perasaan untuk diri sendiri karena sulit bagi orang lain untuk mengerti.

"Kalau saja perasaanmu padanya tidak merusak suasana persahabatan kita. Mungkin sampai saat ini kita masih bisa terus berteman baik. Tanpa ada rasa Canggung,terimakasih Nanda. Karnamu aku tau arti penghianatan seorang sahabat "


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PADAMKAN APINYA! Oleh:LISARS

        Malam ini udara sangat dingin, terlebih lagi hujan turun membasahi jalanan kota jogja. Jihan berjalan dengan sedikit cepat karna su...